Pernah benar-benar berharap mendapatkan apa yang diinginkan dan yakin 100% bahwa itu terbaik untuk kita?. Dan kebodohan ini menghampiri diri saya berulang ulang kali. Berharap alias "ngarep banget" untuk mendapatkan sesuatu, baik itu perhatian atau seseorang yang mengerti saya. Bagusnya setelah saya bolak balik mempertimbangkan dan mencari referensi terhadap apa yang saya harapkan. Pada akhirnya saya sadar bahwa semua yang saya harapkan itu hanyalah sebuah kesia-siaan, semu, fatamorgana. Bahkan intuisi saya bilang bahwa saya berhak mendapatkan sesuatu yang jauh lebih baik dati itu. Rasa percaya diri saya muncul dan saya tau hal itu atau dia bukan orang yang tepat untuk saya. Dari banyak kata-kata yang nyantol di otak saya adalah "Laki-laki baik hanya untuk wanita yang baik baik pula, atau sebaliknya" atau "Tuhan itu memberikan apa yang kita butuhkan bukan yang kita inginkan". Ibarat bergantung di sarang laba-laba, sarang paling rapuh yang pernah ada, saya asik memainkan perasaan hati saya untuk hal yang saya yakini itu tidak baik, bermain-main dengan sesuatu "sudah" ditentukan bahwa itu salah. Saya berusaha untuk tidak melampaui batas, karena Tuhan tidak suka dengan orang-orang yang melampaui batas. Jika dibilang, godaan yang selalu membisikkan telinga saya untuk melampaui batas itu bagaikan panah api yang datang dari segala penjuru. Kekuatan yang saya harus himpun adalah keberanian untuk membuka mata bahwa itu "salah".Lagi-lagi, hal tersebut bukan satu hal yang mudah. Apa yang saya harapkan saat ini pun adalah panah api terbesar yang setidaknya telah menjilat berbapa bagian tubuh saya. Semua semu, semua tak nyata. Tuhan adalah sang pemilik hati, dan Dia yang maha membolak balikan hati. Tak ada yang berhak mencuri hati saya selain Dia. Godaan ini bukan yang pertama kalinya dan jangan sampai saya melampaui batas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar