2002 awal mencicipi seragam putih abu abu, yang banyak orang bilang adalah masa masa bersejarah usia reamaja, masa pencarian jati diri, cinta dan persahabatan. Namun dari sudut pandangku sendiri, masa SMA sedikit lebih kecil, sulit dan berbeda dari kebanyakan tanggapan orang. Dimulai dengan awal tahun yang sangat keras dan tidak mudah. Ya, sorang yang sedikit “clumsy” dan tak tau bagaimana bersahabat membuat seorang anak kampung ini menjadi korban “bullying”, masa masa kelas satu yang membuat ruangan I.C serasa neraka, masa masa penyesuaian yang panjang.
First grade
Gangguan yang begitu terasa dari anak anak kelas lain, ini adalah ujian terberat yang kadang sampai membuat aku ingin melepas seragam putih abu bau ini menjadi seragam besi dengan pedang yang siap menghujam mereka saat mereka menggagu, hayalan konyol memang. Tapi sebesar itulah pengaruh gangguan ank anak lain terhadapku. Aku masih ingat saat seorang “trouble maker” yang sekarang menjadi teman terbaiku, malahan menjadi adik tingkatku dikampus, Binsar Sirait. Dia mengetuk keplaku lewat jendela, terasa lucu memang, saat kami mengingat masa masa ini. Masih terbekas secara jelas bahwa dia merubah sifat jahatnya terhadapku dikarenakan aku membawa sayuran untuk temanku, Siti. Dia beranggapan bahwa ternyata aku ini anak baik, sebenarnya sedikit terlambat untuk mengakui aku orang yang memang benar benar ingin berteman dengan orang lain pada saat itu. Mungkin ini merupakan satu inspirasai besar buatku, berbuatlah baik dengan ikhlas walau itu kecil, dan orang lain yang akn menilai dirimu. Itulah saat aku merasa mulai nyaman, dan neraka mulai berangsur menjadi sebuah surge kecil untuk mahluk se-naif aku, terlalu berlebihan mungkin.
Sekitar 3 tahun lalu, aku berpapasan beberapa kali dengan seorang teman lama yang dulunya aku anggap masalah dalam hidupku. Saputra Eka Yusmuara, aku suka menggapnya komandan sekarang, dan seorang “father”, karena beliau sukses menjadi seorang ayah, akupun akan menyusul nanti komandan. Aku masih ingat saat aku pernah ingin memukulnya dengan kursi kayu saat dia menggaugu ku, jika ingan hal tersebut aku mersa geli sendiri, sebegitu marahnya hingga aku kesetanan. Apa jadinya jika aku memukul dia dengan kursi kayu yang besar itu, tak bisa aku bayangkan. Tapi untungnya aku cukup sabar dalam batasa ketakutan dan rasa marahku. Aku patut berterimasih denga sang komandan ini, banayak hal yang bisa aku dapatkan darinya, anggap sajalah dia adalah penguji “mental” ku pada waktu itu, menguji tingkat emosional dan kesabran, dan akhirnya aku berhasil. Dan sampai saat inipun aku masih belajar untuk mejadi sempurna dengan semua ujian yang ada. Putra nama panggilan orang orang buatnya, dia lebih ramah, sangat ramah boleh aku bilang demikian, seorang yang dulunya masalah tapi kini tidak sangat bersahaja. Aku fikir sangat luarbiasa, aku berpapasan denga bliau di simapang bajak dekat bundaran kampusku, ketika ia meliaht aku dia berbalik dan menyapa. Inilah hidup, selalu ada teka teki yang akn terpeceahkan dan kejutan kejutan tak terduga. Leona lewis bilanag dalam lagunya “Better in Time”, ya semua akn indah pada waktunya.
Jika bebicara masalah dewi penyelamat selain ibumu, aku punya banyak dewi penyelamat, mungkin teralalu tinggi bahasanya, tapi inilah julukan yang aku suka untuk teman wanita dikelasku. Levi Novalia, si tomboy yang sellau membelaku saat diganggu, teman kelas yang siap mengepalkan tinjunya dan suara lantangnya untuk membela aku. Seoarng wanita yang blak blakan, uniq dan lucu, aku fikir. Sekarang aku tidak tau dimana bliau, banyak rumor tentangnya. Tapi semoga satu saat bertemu lagi dengan bliau.
Dimasa ini, aku punya teman akrab dan saat ini sudah seperti saudara ku sendiri, si kurus Wawan Mujiharto, seorang yang aku tau begitu tegarnya, lebih kuat dari aku, dan lebih bnayak “masalah” daripada yang aku rasakan. Seoarng laki laki tangguh, madiri, cerdas dan punya sense of humor yang tinggi, tapi sedikit sensitive, dia adalah teman yang aktif dan energic, antusias dan pecinta sayuran hijau.
Second grade
Masa masa sulit “setelah hujan akn ada pelangai” atau “habis gelap terbitlah terang” benar benar ada dalam kamusku, meniti masa masa sulit dan menapak kehidupan baru dengan kelas baru dan orang orang yang sebagaian baru, dan tak menyagka duduk satu bangku dengan Binsar Siraut, dikuti dengan Levi Novalia dan Yusefa Hartati (alm), masa masa penuh tawa dan keceriaan, wlau masih aja trouble maker dikelas ku yang suka menggau ku, namuan aku sudah cukup belajar bnayak bagaimana mengatasi semua ini, orang bilang “practice makes perfects”, dengan sedikit trik dengan keakraban dan kehangatan aku bisa meluluhkan para jabrik jabrik itu.
Menganal bagaimana sebuah persahabatan terjalin saat celana ini sudah mulai pendek dan baju ini harus diganti dengan lambang baru adalah sebuah “new moon” tahun 2004 itu. Teman teman kelasa yang lebih friendly dan lebih unik, mungkin karena karakter karakter mereka baru terbentuk. Ada si Sumini, Pooh (alm), ada juag Geng si Susek, dan lain lain, masa masa dimana mulai timbul beberapa “clan” di kelas, aku bukan tipikal orang yang suka berkelompok dengan orang orang tertentu, tapi ini memnag sebuah prinisp sebenranya, prinsip “Kenyamanan”, akhirnya kau punya teman teman satu genk, bisa jadi orang menjulkinya geng “perpus”, “culun”, atau semcamnya.
Perpus dan mushola adalah tongkrongan wajib kita (Wawan, Himwan, aku), kadang juag Rahmat Kurniwan, tapi intensitas nya kurang atau Ucup. Hiding spot atau Hang out spot kita yang selalu menyediakat sinyala WI-Fi Gosip, Kantin Ibu Keling, kantin yang meneydiakan menu special Tekwan ala chief Ibu keeling ini, merupakan tempat semua golongan, menegah kebawah samapai mengeah keatas, kantin yang dikepalai seorang ibu yang sanagat supel dan penuh dengan sense of humor, memang menjanjikan kenyaman buat anak anak sekolah ini untuk nongkrong dan bergosip. Sebenarya tidak hanya kami yang suka berjubel jubel ria di sana. Para gurupun seolah dihipnotis untuk bersantai, terutam para guru guru perempuan, namanya juga sesama perempuan, apapun yang diobrolkan pasti asik. Tempat yang aku yakin semua merindukanya, terutam mencicipi makanan yang ada disana. Kantin Ibuk Zul juga sangat terkenal, tapi aku jarang kesana, jujur saja aku sedikit “feel inferior” dengan orang orang yang pergi kesana. Yah, aku memnag payah pada waktu itu, mungkin saat ini juga masih payah.
Membolos memanag bukan kerjaanku, tapi pernah satu kali kami membolos, dan Edi ndut yang jadi sasaranya, semua tas tas temanku dia yang membawa. Sekarang temapat kongko kita dalah, rumahnya Dude Chandra di Gajahmada. Gang “One Piece” aku menjuluki mereka, entah pada saat itu Naruto belum mengkangker di telinga dan hati mereka, terasa lucu jika diingat. Mereka berebutan karakter dalam one pice, tapi tak ada yang mau menjadi Usop. Rumah yang halam depanya tumbuh pohon rambutan yang sedang berbuah, sontak langsung diserbu teman teman, semua bertengger diatas, aku memnag tak pandai memanjat hanya menunggu ada yang berbaik hati memberi. Dudex, Binsar, Muammar, Bayu, Edi, Novi Harianto dan Aku. Semua masih terekam dengan apik di otak walau telah berlalu 7 tahun lalu, waktu yang tersasa baru seperti kemarin “ seems like yesterday”.
Ada banyak pengalam unik dikelas, ada ibuk Endang Agustina Hasugian yang berbakat di dunia broadcast, ada si Ria latah, ketua kelas Kiki Renaldo yang ditaksir kakak tingkat, ada si biawak yang super PD. Dan aku masih ingat posisi duduk mereka.
Aku tidak suka mata pelajaran olahraga, tapi aku suka SKJ setiap hari Jumat. Teman-teman suka membaut kekacauan dengan memisahkan barisan mereka, sehingga tinggal tersisia satu oaring saja didepan, kebiasaan memeprmalukan orang lain. Untungnya kau tak pernah menjadi bulan bulanan ini, aku termasuka oaring yang lebih suka berada di sisi aman, tidak mengambil resiko dan menghindari konflik. Aku apaling suka mata pelajaran Biologi, aku kuarang begitu pandai Fisika, apalagi matematika. Entah kenapa aku begitu bodoh dengan yang namanya matematika.
Third grade
Menjadi senior, yang dituakan tak berarti apa apa bagiku, teman teman harus memlih jurusan masing masing, IPA atau IPS, aku memlih ipa wlau secar ajujur aku bilang aku payah dalam matematika, sanagt payah. Ibu Zulaika adalah wali kelas kami, kelas yang bersebelahan denan pusat parfum amoniak yang akan menyebar dengan indahnya di tengah hari adalah ujian terberat bagi hudung kami, namun lama kelamaan hidung kami kebal terhadapnya, aku duduk sebangku dengan Abdul.
Kelas III. IPA I yang diketuai oleh Paklek Joko sang atlit anggar yang pernah berpacaran denag Indah, teman satu kelasnya. Memang banyak intrik cinta didalam kelas tersebut. Si Dona yang terlibat “crush” dengan seseorang laki laki sunda, entah mungkin sampai sekarang, Mbak Ita yang mungkin juga suka dengan temnaku sendiri. SI Nopa yang manja, si Refa yang sedikit centil dan si ucok yang suka tidur dikelas, tapi anehnya dia brilliant luarbisa dalam urusan sains, aku saja ayng memeprhatikan dengan seksama, begitu susahnya menjawab, kadangpun tidak bisa, tapi dia, wlau ketiduran dia bisa menjawab soal dengen cermatnya, what a boy!.
Hari hari terakhir Ibu Zulaika, dipenuhi dengan rasa kehilangan mendalm dari kami, bliau harus pulang ke Aceh karena pada waktu itu, daerah Bliau terkena Tsunami. Sekarang sudah tak ada kabar lagi dari beliau, mungkin satu saat nanti, aku atau teman temanku akan bertemu dengan beliau. Yang pasti kami merindukannya dan pastinya banayak cerita yang ingin diutarakan.
Kelas tiga adalah penentu kami untuk jenjang selanjutnya, UAN adalah momok besar dalam diri masing masing kami, dengan standar kelulusan yang terus naik dan naik, membuat kami paranoid sendiri. Terutama aku sangat takut dengan matematika, aku mati matian menghafal dan belajar matematika 3 bulan sebelum UAN dan pada saat UAN berlangsung aku masih saja tidak bisa. Lagipula menurutku UAN tidak bisa menunjukan seseorang mampu atau tidak nanati, ataupun ke 3 mata pelajaran yang diuji bisa benar benar berguna kedepan. Andai para pendidik lebih banyak lagi membaca buku “Toto-Chan atau buku berjudul Sekolahnya Manusia” pasti lain ceritanya.
In memoriam
Kita tidak pernah tau kapan kita akan berpulang, kadanga ada rasa takut akan kematian, tapi temanku pernah bilang, semua orang akan mengalaminya nanti, semua!. Jadi kenpa kita harus takut. Aku sudah berkali kali kehilangan orang orang terdekatku, sakit terasa memamng, jika aku boleh katakan, siapa yang siap dengan perpisahan, aku yakin semua kiata harus siap, tapi pada awalnya tidak mudah untuk berkata begitu. Selalu ada kenagann indah dari tiap orang yang kita kenal, selalu ada senyum yang mengambang ketika kita ingan dengan orang tersebut atau justru ada tangis untuk setiap ingatan dan memori tentang mereka, ini persepsi masing masing dari kita.
Yuseva Hartati
Pergi diusia muda, dia adalah pukulan terhebat pada saat itu. Akupun tak sempat melihatnya untuk terakhir kali, aku berfikir teman macam apa aku ini. Seorang sahabat yang sellau siap membela aku dan memebrikan semangat, ya, seoarang wanita dan sahabat yang sampai saat inipun aku masih ingat wajahnya dan senyumnya, dan tawanya, gayanya, giginya depannya yang tak rapat. Atau bahkan kehujanan ketika menuju rumahnya bersama Binsar dan Levi, mencicipi kue kacang sisa lebaran, atau makn mie ketika mereka jalan kerumku. Sedih memang, dan sebelum dia pergi, dia pernah datang dalam mimpiku, mengenakan gaun putih dan tersenyum, ia pernah sempat 2 kali datang padaku dan di mimpi kedua dia dating lagi masih dengfna senyum yang lama, dia tampak begitu bersahaja. Aku hanya bisa berdoa saat ini, untuk Almarhumah. Semoga dia baik disana.
Poo (Eka Prozana Purtri)
Begitulah orang orang menjulukinya, gadis yang lucu, sedikit cubby dan maja, siapa yang tidak menegnal sosok periang ini. Berteman akrab dengan Sumin, gadis disiplin menurutkui. Kepergiannya masih membekas di benak teman teman ku, Binsar adalah orang yang paling teringat dengan kenangan itu. SSMS pagi itu sontak memukul setiap orang yang yang mendapat kabar kepulangannya. Sipa sangka, ini cerita sang Khalik. Slamat jaln Poo
Saktia Rini
Satu kampus denganku, dan masih sering ngobrol bersama, termasuk aku masih menyimpan album foto yang tak sengaja aku temukan di rumah adek tingkat kau. Ya, lagi lagi perempuan yang sehat dan juga periang. Jalan setapak menuju kampus, dibawah pohon palem saat itu, kami sempat mengobrol, memperbincangkan hal hal kecil, “kapan menikah”, “kapan pulang ke curup”, “tau kabar si Anu”. 3 tahun lalu mungkin. Tapi kenangan akan orang orang terdekat, tak kan luput. Doa kami untukmu
Susilawati
Seorang ibu,ya, sosok mandiri. Perempuan periang, yang jangkung. Siapa yang siap ditinggalkan, tentu tidak ada. Perempuan 1 SMP dengan ku ini, adalah seorang sosok yang cerdas. Meninggalkan seorang anak yang entah saat ini sudah berusia berapa. Aku sering lewat dide[pan rumahnya, dan aku selalu teringat dia melongok ke jendela. Tapi itu tak mungkin lagi. Dia sudah tenang disana. Anakmu akan menjadi anak yang soleh nanati. Amin ya Rabb.
Firman & Retno
Secara jujur, aku kurang begitu mengenal sosok mereka berdua. Tapi aku masih sangat ingan Retno ketika beliau menjadi perwakilan pada saat perpiasahan, didampingi hmawan, dia kelihatan cantik dengan gaun merahnya. Begitupun Firman, aku hanya sempat sekali mengobrol dnegannya, obrolan singkan di bawah pohon nangka di kampusku, saat itu ia bersama Muzain, jika aku tidak salah. Ya, mereka terlalu muda untuk pergi, tapi inilah hidup. Semua akan dapat waktunya. Slamat jalan teman. Orang orang terdekat kalian pasti meneruskan cita cita mu.
My beloved Physics Bpk. Zulkarnain
Sosok tegas bliau adalah salah satu hala yang paling diingat. Siapa yang tidak dengan bliau, pak Kumis. Dedikasi luarbiasa untuk SMA ku, didampingi istri yang luarbiasa dan anak anak yang cerdas, membuat banyak oarang takjub padanya. Banyak hal yang tidak terlupakan dari blau, dan akau sangat yakin, blau adalah sosok paling terkenal di Sekolahku. Banyak hal lucu yang terjadi, dengan penggaris panjang nya, tanganku yang saat ini mampu mendapatkan recehan untuk makan adalah hasil pukulan beliau, dampak yang luar biasa, telinga ini yang sering mendapatkan omelan bliau, kini mmapu mersakan bagaimana mendengarkan orang dengan baik, mulut yang suka gemetaran melihat bliau, kini mampu memebrikna sedikit kontribusi buat orang lain, begitulah dampak besar yang bliau ajarkan untuk ku, bahkan untuk oarang lain juga. Kami akan selalu ingat kebaikan bliau. Karena bliau orang baik. We love You Pak Zul.
Special Thanks
Untuk anak anak O-Five, jadilah yang terbaik, berikan yang terbaik walau hanya sedikit. Untuk para pahlawan tanpa tanda jasaku, engkau luar bisa. Kami akan meneruskan cita cita mulia kalian.